Organisasi-organisasi di Indonesia yang dibentuk Jepang
•ORGANISASI KEMILITERAN
1.Heiho
Heiho (pasukan pembantu) adalah prajurit Indonesia yang langsung ditempatkan di dalam organisasi militer Jepang, baik Angkatan Darat maupun Angkatan Laut. Syarat-syarat untuk masuk Heiho adalah umur 18-25 tahun, berbadan sehat, berkelakuan baik, dan berpendidikan minimal sekolah dasar. Tujuan pembentukan Heiho adalah untuk membantu tentara Jepang. Kegiatannya antara lain, membangun kubu-kubu pertahanan Jepang, menjaga kamp tahanan, dan membantu perang tentara Jepang di medan perang.
2.Peta
Merupakan organisasi kemiliteran yang dibentuk Jepang dengan tujuan agar Indonesia dapat dilepaskan dari rasa ketakutan akan adanya seragan Sekutu, Jepang berusaha agar Indonesia dapat dipertahankan dari serangan Sekutu. Heiho sebagai pasukan yang terintegrasi dengan pasukan Jepang masih dipandang belum memadai. Jepang masih berusaha agar ada pasukan yang secara konkret mempertahankan Indonesia. Oleh karena itu, Jepang berencana membentuk pasukan untuk mempertahankan tanah air Indonesia yang disebut Pasukan Pembela Tanah Air (Peta). Peta berdiri berdasarkan peraturan dari pemerintah Jepang yang disebut Osamu Seinendan, nomor 44.
3.Seinendan
Seinendan (Korps Pemuda) adalah organisasi para pemuda yang berusia 14-22 tahun. Pada awalnya Seinendan 3500 orang dari seluruh Jawa. Tujuan dibentuknya Seinendan adalah untuk mendidik dan melatih para pemuda agar dapat menjaga dan mempertahankan tanah airnya dengan kekuatan sendiri. Bagi Jepang, Seinendan digunkan untuk memdapatkan tenaga cadangan guna memperkuat usaha mencapai kemenangan dalam perang Asia Timur Raya, perlu diadakannya pengerahan kekuatan pemuda. Dalam hal ini Seinendan difungsikan sebagai barisan cadangan yang mengamankan barisan belakang. Jepang juga menggerakan Seinendan bagian putri yang disebut Joyi Seinendan. Pada akhirnya Seinendan berjumlah sekitar 500.000 pemuda.
4.Keibodan
Organisasi Keibodan (Korps Kewaspadaaan) merupakan organisasi semimiliter yang anggotanya para pemuda yang berusia antara 25-35 tahun. Syarat utama untuk masuk Keibodan adalah berbadan sehat dan berkelakuan baik. Pembentukan Keibodan ini memang dimaksudkan untuk membantu tugas polisi, misalnya menjaga lalu lintas dan pengamanan desa. Untuk itu anggota juga dilatih kemiliteran. Disamping Keibodan dan Seinendan, pada bulan Agustus 1943 juga dibentuk Fujinkai (perkumpulan wanita). Fujinkai bertugas di garis belakang untuk meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat melamui kegiatan pendidikan dan kursus-kursus dan ketika situasi perang semakin memanas, Fujinkai ini juga diberi latihan militer sederhana. Organisasi sejenis Fujinkai ini juga dibentuk untuk usia murid SD yang disebut Seinentai (barisan murid sekolah dasar), kemudian dibentuk Gakukotai (barisan murid sekolah lanjutan).
5.Fujinkai
Fujinkai atau Perkumpulan Wanita merupakan organisasi bentukan Jepang yang beranggotakan para wanita yang dibentuk pada bulan Agustus 1943. Pembentukan organisasi Fujinkai diprakarsai oleh para istri pegawai daerah dan diketuai oleh istri – istri dari kepada daerah. Anggota Fujinkai berusia minimal 15 tahun dengan tugas meningkatkan kesejahteraan dan kesehatan masyarakat melalui kegiatan pendidikan dan kursus – kursus. Ketika situasi di Indonesia semakin memanas, Fujinkai diikutsertakan pada pelatihan militer guna membantu Jepang dalam perang Asia Timur Raya. Bahkan pada tahun 1944 dibentuk “Pasukan Srikandi” yang beranggotakan para wanita dari Fujinkai.
6.Gokukutai
Gokukutai atau Barisan Pelajar merupakan organisasi semi militer yang beranggotakan pelajar yang dididik untuk mempersiapkan perang karena adanya desakan militer akibat perang Asia Timur Raya.
7.Barisan Pelopor
Pada pertengahan tahun, diadakan rapat Chuo-Sangi-In (Dewan Pertimbangan Pusat). Salah satu keputusan dari rapat tersebut adalah bagaimana cara untuk menumbuhkan keinsyafan dan kesadaran yang mendalam di kalangan rakyat untuk memenuhi kewajiban dan membangun persaudaraan untuk seluruh rakyat dalam rangka mempertahankan tanah airnya dari serangan musuh. Sebagai konkret dari kesimpulan rapat tersebut, pada tanggal 1 November 1944, Jepang membentuk suatu organisasi baru yang dinamakan “Barisan Pelopor”. Melalui organisasi ini diharapkan adanya kesadaran rakyat untuk berkembang, sehingga siap untuk membantu Jepang dalam mempertahankan Indonesia. Organisasi ini mengadakan pelatihan militer bagi para pemuda, meskipun hanya menggunakan peralatan yang sederhana, seperti senapan kayu dan bambu runcing. Pemimpin Barisan Pelopor saat itu adalah Ir. Soekarno yang dibantu oleh R.P. Suroso, Otto Iskandardinata, dan Buntaran Martoatmojo.
8.Hizbullah
Pada tanggal 15 Desember 1944 berdiri pasukan sukarelawan pemuda Islam yang dinamakan Hizbullah (tentara Allah) yang dalam istilah Jepangnya disebut Kaikyo Seinen Teishintai. Hizbullah mempunyai tugas pkok, yaitu sebagai berikut :
•Sebagai tentara cadangan dengan tugas dan program, antara lain : melatih diri, jasmani maupun rohani dengan segiat-giatnya.; membantu tentara Dai Nippon; menjaga bahaya udara dan mengintai mata-mata musuh; menggiatkan dan menguatkan usaha-usaha untuk kepentingan perang.
•Sebagai pemuda Islam dengan tugas dan program, antara lain : menyiarkan agama Islam, memimpin umat Islam agar taat menjalankan agama Islam, dan membela agama dan umat Islam Indonesia.
•ORGANISASI SOSIAL KEMASYARAKATAN
1. Gerakan Tiga A
Gerakan Tiga A ini mempunyai tiga semboyan yaitu Nippon Cahaya Asia, Nippon Pelindung Asia, dan Nippon Pemimpin Asia. Jepang berusaha agar perkumpuan ini menjadi wadah propagandan yang efektif.
Latar belakang Jepang membentuk perkumpulan ini adalah Jepang ingin mendapatkan dukungan dari masyarakat Indonesia.
Tujuan dibentukya perkumpulan ini yaitu:
•Menjadi wadah propaganda (pemberi doktrinasi kepada masyarakat Indonesia).
•Agar rakyat Indonesia dengan sukarela menyumbangkan tenaga bagi kekuatan Jepang di bidang militer.
2.Pusat Tenaga Rakyat (Putera)
Putera merupakan organisasi lanjutan yang dibentuk Jepang setelah gagalnya organisasi Gerakan Tiga A. Tujuan Putera adalah untuk membangun dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang telah dihancurkan oleh Belanda. Menurut Jepang Putera bertugas untuk memusatkan segala potensi masyarakat Indonesia guna membantu Jepang dalam perang. Disamping tugas di bidang propaganda, Putera juga memperbaiki bidang sosial ekonomi. Pimpinan pusat Putera adalah Empat Serangkai (Sukarni, Moh. Hatta, K.H. Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara).
Latar belakang dibentuknya organisasi ini adalah karena gagalnya Jepang mendpatkan simpati rakyat Indonesia malalui organisasi “Gerakan Tiga A” yang kmudian dibudarkan, maka Jepang mulai tertekan. Ditambah lagi kekalahan Jepang diberbagai medan pertempuran telah menimbulkan rasa tidak percaya dari rakyat. Oleh sebab itu, Jepang kemudian melakukan kerja sama dengan tokoh-tokoh nasionalis (Soekarno dan Moh. Hatta). Kemudian pada tanggal 16 April 1963 dibentuk gerakan baru yaitu “Pusat Tenaga Rakyat”.
Tujuan dibentuknya organisasi ini yaitu :
•Membangun dan menghidupkan kembali segala sesuatu yang telah dihancurkan oleh Belanda.
•Memusatkan segala potensi masyarakat Idonesia guna membantu Jepang dalam perang.
•Memperbaiki bidang sosial-ekonomi Jepang.
3.Jawa Hokokai
Jawa hokokai di lihat dari kata hokokai adalah sebuah istilah jepang yang bermakna himpunan. Jawa hokokai adalah sebuah himpunan yang ada di Indonesia tentunya, yang dibentuk oleh pemerintahan jepang dahulu. Himpunan ini di bentuk sebagai pengganti gerakan atau organisasi PUTERA. Himpunan jawa hokokai ini di bentuk pada tanggal 1 maret 1944 yang menjadi sebuah himpunan atau organisasi pusat bagi para pengabdi masyarakat yang di pimpin langsung oleh pemerintah jepang yaitu Gunseikan dan Soekarno.
Pembentukan jawa hokokai pada masa itu tentunya terdapat tujuan tertentu yakni pada waktu itu adanya perang asia timur raya yang dahsyat, sehingga dibentuknya himpunan ini sebagai bentuk untuk mempersatukan rakyat dengan berbagai profesi.
4.MIAI dan Masyumi
. Berbeda dengan pemerintah Hindia Belanda yang cenderung anti terhadap
umat Islam, Jepang lebih ingin bersahabat dengan umat Islam di Indonesia.
Jepang sangat memerlukan kekuatan umat Islam untuk membantu melawan
Sekutu. Oleh karena itu, sebuah organisasi Islam MIAI yang cukup berpengaruh
yang dibekukan oleh pemerintah kolonial Belanda, mulai dihidupkan kembali
oleh pemerintah pendudukan Jepang.Tepat pada tanggal 4 September 1942
MIAI diizinkan aktif kembali. Dengan demikian diharapkan MIAI segera
dapat digerakkan sehingga umat Islam di Indonesia dapat dimobilisasi untuk
keperluan perang.
Dengan diaktifkannya kembali MIAI, maka MIAI menjadi organisasi
pergerakan yang cukup penting di zaman pendudukan Jepang.MIAI
menjadi tempat bersilaturakhim, menjadi wadah tempat berdialog, dan
bermusyawarah untuk membahas berbagai hal yang menyangkut kehidupan
umat, dan tentu saja bersinggungan dengan perjuangan. MIAI senantiasa
menjadi organisasi pergerakan yang cukup diperhitungkan dalam perjuangan
membangun kesatuan dan kesejahteraan umat. Semboyan yang terkenal
adalah “berpegang teguhlah kamu sekalian pada tali Allah dan janganlah
berpecah belah”.Dengan demikian pada masa pendudukan Jepang, MIAI
berkembang baik.Kantor pusatnya semula di Surabaya kemudian pindah ke
Jakarta.
Adapun tugas dan tujuan MIAI waktu itu adalah:
a. Menempatkan umat Islam pada kedudukan yang layak dalam masyarakat
Indonesia.
b. Mengharmoniskan Islam dengan tuntutan perkembangan zaman.
c. Ikut membantu Jepang dalam Perang AsiaTimur Raya
Untuk merealisasikan tujuan dan melaksanakan tugas itu, MIAI membuat
program yang lebih menitikberatkan pada program-program yang bersifat
sosio-religius.Secara khusus program-program itu akan diwujudkan melalui
rencana: (1) pembangunan masjid Agung di Jakarta, (2) mendirikan universitas,
dan (3) membentuk baitulmal. Dari ketiga program ini yang mendapatkan
lampu hijau dari Jepang hanya program yang ketiga.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar